Totalitas

Gara-gara teringat obrolan pas kumpul sama teman-teman kampus, terpikir juga ide untuk postingan ini setelah sekian lama nggak mengisi blogku ini.

Waktu itu, ceritanya lagi ngobrolin tentang revisi skripsi. Salah satu temenku (cewek) yang baru selesai sidang skripsi, langsung heboh sendiri. Dan tiba-tiba dia nunjukin lembar ucapan terima kasih di skripsinya. Aku dan teman-teman lain, langsung ikutan heboh dan ngakak-ngakak. Lha gimana nggak ngakak, dia tulis nama pacarnya dengan super lengkap, sedangkan orang tua hanya ditulis ‘orang tua’ saja.

Satu hal yang terpikir di benak saya saat itu, ‘hieuh, lebay banget sih’. Emang sih, hak setiap orang (khususnya calon wisudawan ato wisudawati) mau nulis ucapan terima kasih ke siapapun. Tapi, menurutku kalo kayak gitu terlalu lebai. Orang tua yang kontribusinya jauh, jauh, jauh lebih besar (cari duit buat kuliah, doain setiap hari, kasih fasilitas yang nyaman di rumah), malah nggak dapat apresiasi lebih. Sedangkan pacar yang, yah, paling cuma bantuin ngetik, anterin wira-wiri cari bahan skripsi, ikutan mikir, sampai ditulis lengkap banget namanya.

Tiba-tiba saya sedikit berkhayal, seandainya nanti temen saya itu nggak jodoh sama pacarnya yang sekarang, apa ya nggak nelongso kalo lihat di skripsinya ada nama mantannya itu. Pasti gimana gitu rasanya. Itu juga yang jadi alasan, saya nggak nulis nama lengkap pacar saya. Meskipun dia memang punya kontribusi dalam pembuatan skripsi saya. Satu nggak ditulis, ya nggak ditulis semua. Kalaupun ditulis, yang harus ditulis utama selain dosen pembimbing dan jajaran petinggi kampus jelas nama orang tua.

Kalau dilihat lagi ke belakang, teman saya ini memang punya totalitas yang tinggi terhadap pacarnya. Ya, totalitas. Pernah suatu ketika, dia memberikan hadiah yang mahal banget untuk cowoknya itu. Belum lagi perilaku perilaku lebay lainnya. Padahal kita ini cuma manusia lemah yang nggak tahu apa-apa tentang hidup kita di masa datang. Dalam urusan cinta, nggak sedikit orang-orang yang menangis karena putus cinta, merasa menyesal, apalagi kalo ingat ‘totalitas’ yang udah dilakuin dulu pas masih pacaran. Berkaca dari pengalaman banyak orang itu, harusnya kita bisa mengontrol diri dan memberikan totalitas kita, dari hati maupun sikap, kepada yang seharusnya.

Advertisements

2 thoughts on “Totalitas

  1. He he…, seumur-umur saya malah belum pernah tahu kalau ada yang menulis nama pacarnya di skripsi, kalau sudah menikah mungkin jadi suami/istri itu agaknya wajar. Tapi yah, saya rasa itu bisa saja terjadi di dunia yang luas ini.

    Hmm…, daripada totalitas, mungkin saya akan merujuk pada frasa “kesepenuhan hati” 🙂 – lebih menenangkan jika didengar.

    • heheh… begitulah kenyataannya, kalo orang udah terlanjur cintah. hahahaha…
      ‘kesepenuhan hati’ ya? bisa juga.. hehehe..

      btw, trima kasih atas kunjungan dan komennya ya.. salam kenal.. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s