Pengalaman Singkat di Madura

26 Juli 2009

Berawal dari Ibu ku yang pengen banget mencoba ‘menaiki’ Suramadu Bridge, akhirnya berangkatlah aku sekeluarga, sama keluarganya om, keluarganya tante (banyak deh) ke sana.

Sebenernya aku juga ingin tahu seperti apa Suramadu itu. Secara, kemaren habis ‘utek-utek’ informasi tentang Suramadu dan Madura buat dijadiin sebuah karya ilmiah bareng temenku. Jadi penasaran, bener nggak sih, Suramadu dan kondisi Madura sama dengan apa yang aku baca.

Jam setengah 7 berangkat dari Surabaya. Pelan tapi pasti, sampe juga diatas Suramadu. Mobil bayar tol Rp. 30.000,00. Dan selanjutnya, seperti yang aku bayangin, there’s nothing special. Ya cuma jembatan, di atas laut, anginnya gede. Bedanya ada di fungsinya yang ‘unik’, yaitu sebagai jembatan penghubung dua wilayah yang memiliki kondisi, baik perekonomian dan sosial yang kontras, Surabaya, yang begitu maju perekonomiannya dan Madura yang masih belum berkembang.

Well, jam 8an sampe juga di Bangkalan, kota yang paling deket. Udah malem, mau keliling kota juga rada males. Nggak lama nyari, kita memutuskan berhenti di cari makan di Alun-alun Bangkalan. Ok. Cari makan apalagi kalo bukan Sate Madura. Hahaha…

Awalnya nggak kerasa kalo aku lagi ada di Madura. Keadaan kotanya juga nggak beda jauh dengan kota-kota pada umumnya. Tapi begitu parkir mobil, trus tukang parkirnya bilang, “Kiri… kiri… Stop, Pak!” dengan logat Madura yang khas, baru bener-bener kerasa, that I’m in Madura. Hahaha…

Setelah pesan sate, aku nemenin Ibu cari ATM. Tanya orang, akhirnya ditunjukkin kalo dekat situ ada ATM BRI. Akhirnya kesana, nyampe sana ternyata trouble dan cuma bisa buat transfer aja. Dikasih tahu, kalo ada ATM di deket Matahari. Katanya nggak terlalu jauh sih, tapi ya bisa pegel linu kalo jalan kaki. Jadi, aku ma Ibu memutuskan naik becak. Akhirnya merasakan juga naik becak Madura, malam-malam sambil menikmati suasana kota Bangkalan. Asyik asyik. Dibilang udik juga biarin.

Sampai di tempat, bayanganku tentang Matahari langsung buyar. Tadinya aku pikir Matahari yang seperti di Malang, gede. Tapi ternyata nggak segede yang aku bayangin. Langsung tancap ke ATM BRI deket situ. Eh, ternyata trouble juga. MasyaAllah, ini ATM kok pada kompak troublenya. Untung dekat situ ada ATM lain juga. Akhirnya bisa narik uang deh. Aku ma Ibu, naik becak lagi balik ke Alun-alun.

Di sana, eh pesanan sate udah ready, asyik asyik. Kesampaian juga nyobain sate asli Madura di Madura asli. Hehehe… Karena udah malem, habis makan, langsung tancap balik Surabaya, dilanjutin Malang. Huff.. Capek tapi seru. Satu hal yang aku tangkap dari perjalanan singkatku di Madura adalah warga ternyata Madura ramah dan welcome banget. ^^ Jiayou Madura..

Advertisements

2 thoughts on “Pengalaman Singkat di Madura

  1. Kalo emang warga Madura ramah-ramah,,, apa yang buat ada pandangan masyarakat bahwa warga Madura tersebut kasar ya?
    Jadi inget karya tulis yang kabarnya ga jelas sampe sekarang ya…. hahaha,,

    • nah, itu dia.. sejauh yang aku tau waktu disana, mereka ramah-ramah. paradigma orang yang perlu diperbaiki kali ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s