Cerita tentang Seorang Ibu

Februari 24th, 2010 § 5 Komentar

Orang hebat. Apa arti orang hebat? Pasti definisi dan ukuran hebat untuk masing-masing orang berbeda-beda. Ya kan? Kali ini, saya hanya ingin bercerita tentang seseorang. Kemarin saya bertemu dengan orang hebat versi saya. Siapa dia? Ibu Dra. Wahyuni Ekowati, seorang guru matematika, sekaligus Pembina UKS sebuah sekolah madrasah aliyah negeri di Malang.

Apa yang istimewa dari seorang guru matematika dan Pembina UKS? Keistimewaan perempuan ini adalah ketulusan, pengabdian dan semangat yang dimilikinya. Siapapun tidak akan menyangka, jika setiap hari dia menempuh perjalanan pulang pergi Blitar-Malang. Setiap pagi hari.

Waktu itu, Bu Yuyun-panggilan akrabnya, menunjukkan video perjalanannya dari Blitar ke Malang di pagi hari. Rekaman itu dibuat oleh seorang siswanya, yang mengikuti kegiatan Ibu Yuyun selama 3 hari 2 malam. Dalam video tersebut terlihat jelas, bagaimana tangguhnya sebagai seorang Ibu, seorang istri, seorang guru, seorang wanita karir, seorang pemimpi, serta seorang muslimah. [sayangnya, saia tidak sempat meng-copy video tersebut].

Pukul 5 pagi, Bu Yuyun sudah siap berangkat dari rumahnya menuju Stasiun Wlingi, Blitar.  Tentu saja, setelah selesai melakukan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Ya memasak, mencuci, membersihkan rumah. Perjalanan ke Malang memakan waktu selama kurang lebih dua jam. Sekitar pukul 07.00, dia sampai di Stasiun Kota Baru Malang.

Setelah sampai, dia masih menyempatkan untuk berjalan-jalan melewati Alun-alun Tugu untuk sekedar melihat bunga teratai dan menikmati udara pagi. Terkadang sebelum menuju ke sekolah tempatnya mengajar, dia menyempatkan untuk mampir Pasar Bunga Malang. kalau ada yang bagus, tidak jarang dia beli untuk ditaruh di ruang UKS.

Selesai membeli bunga, Ibu Yuyun naik angkot menuju ke sekolah tempatnya mengajar. Aktivitas itu dia lakukan setiap hari. Setiap hari. Sore harinya, dia menaiki bus untuk pulang ke Blitar. Sekali lagi, aktivitas ini dia lakukan setiap hari. What a wonderful woman!

Pertanyaan saya, “Kenapa nggak ngontrak di Malang saja, Bu?”. Dia menjawab, “Kasihan anak-anak kalau saya tinggal terus. Kan masih pada sekolah.”  Speechless untuk yang kesekian kalinya.

Heran deh, sebenarnya apa yang menjadi motivasi dari Bu Yuyun untuk menjalankan aktivitasnya? Jawabannya adalah mimpi. Itulah yang menjadi tonggak semangatnya selama ini. “Saya ingin jadi orang sukses,” tuturnya.

Banyak pelajaran yang saya ambil dari Bu Yuyun. Pengabdian yang begitu besar terhadap pendidikan dan profesinya. Ketulusan, keikhlasan, dan kecintaan yang begitu besar pada keluarga. Keyakinan pada diri sendiri, serta keinginan kuat untuk mencapai mimpinya. Hal-hal itulah yang sulit bisa dicapai seseorang yang tidak memiliki mental baja dan ketangguhan diri. Keepo spirito, Bu!!!

NB : Dua jam yang cukup bermakna buat saya untuk belajar hal baru dari orang lain.

I love My Mom!

Januari 7th, 2010 § Tinggalkan sebuah Komentar

Setiap hari saya dihadapkan dengan kuliah, pekerjaan, dan hal lain yang cukup menyita waktu. Tugas yang cukup banyak tersebut, seringkali mampu membuat saya sukses melancarkan program begadang atau hanya cukup tidur 3 jam sehari. Padahal saya sudah membuat kesepakatan dengan diri saya sendiri untuk tidak mau tua sebelum waktunya, hanya karena begadang atau punya pola makan yang buruk. Well, apapun alasannya, yang jelas waktu, tenaga dan pikiran saya terkuras habis untuk itu semua. Bahkan waktu weekend pun harus  saya relakan untuk mengerjakan semua kewajiban itu. *masih berpikir dengan konsep amanah*.

Minggu pagi ketika saya akan berangkat ke kampus, dengan kemalasan yang luar biasa dan tenaga yang seadanya, untuk mengerjakan kewajiban saya dan sudah dipastikan saya akan pulang larut lagi hari ini, saya berpamitan dengannya. Beliau hanya menatap saya dan berkata, “Hati-hati”. Matanya berat menatap saya, mungkin beliau ingin saya berada di rumah hari itu. Karena memang sudah seminggu ini saya selalu sibuk di luar. Namun, beberapa detik kemudian, tatapan itu berubah menjadi tatapan yang menyejukkan.  Senyumannya lembut. Seperti memberikan support, semangat, dan energi baru untuk saya.

Ternyata hanya cukup sebuah senyuman dari seorang Ibu, kelelahan dan kemalasan yang amat sangat itu berubah menjadi satu semangat dan energi baru. Matanya seolah berkata, “Semangat, Nak. Taklukkan dunia. Ibu mendukungmu”. Cukup untuk membuatku kembali bersemangat. Walaupun beliau ingin anaknya ada di dekatnya, tapi dia membiarkan anaknya pergi. Tidak pernah putus memberikan izin dan doa.

Ibu, semua ini untukmu. Apa yang kulakukan ini untukmu. Terima kasih untuk dukunganmu, terima kasih untuk izinmu, terima kasih untuk doamu, terima kasih untuk semua yang kau berikan, Bu. You’re my everything. Ibu itu doping kuat untuk saya yang tidak akan tergantikan oleh apapun.

Maaf, jika aku tidak bisa menjadi anakmu yang baik. Tapi dibalik semua yang kulakukan ini, selalu kusisipkan niat, “Ini semua karenamu dan untukmu, Ibu”.

~~~ Happy Mother’s Day ~~~

Di mana saya?

You are currently browsing entries tagged with ibu at an1ndya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 117 pengikut lainnya.