Totalitas

Mei 29th, 2011 § 2 Komentar

Gara-gara teringat obrolan pas kumpul sama teman-teman kampus, terpikir juga ide untuk postingan ini setelah sekian lama nggak mengisi blogku ini.

Waktu itu, ceritanya lagi ngobrolin tentang revisi skripsi. Salah satu temenku (cewek) yang baru selesai sidang skripsi, langsung heboh sendiri. Dan tiba-tiba dia nunjukin lembar ucapan terima kasih di skripsinya. Aku dan teman-teman lain, langsung ikutan heboh dan ngakak-ngakak. Lha gimana nggak ngakak, dia tulis nama pacarnya dengan super lengkap, sedangkan orang tua hanya ditulis ‘orang tua’ saja. « Read the rest of this entry »

Jatuh Cinta [lagi]

Februari 19th, 2010 § 2 Komentar

Disini saya ingin bercerita bahwa ada hal yang bisa bikin saya nggak karuan. Saya bisa ketawa-ketiwi sendiri, senyum-senyum gila, bahkan sampai nangis sambil senyum. Tapi untungnya hal ini nggak bisa bikin saya gila beneran.

Waktu iseng-iseng utak-atik lappy, akhirnya saya menemukan kumpulan lagu Dave Koz, seorang saxophonist. Itu file saya cari dulu hilang ternyata menyelip diantara kumpulan file musik lainnya. Langsung saja saya putar. Dan memang masih sukses bikin saya melakukan tindakan-tindakan seperti yang sudah saya sebutkan diatas (ketawa sendiri, senyum gila dan nangis sambil senyum. red).

Saksofon. Kalau nggak salah, sejak SMP saya mulai jatuh cinta sama alat musik ini. Jangan tanya saya bisa memainkannya atau tidak. Jawabannya pasti tidak. Saya lebih suka mendengarkan orang lain [yang ahli tentunya] memainkan alat musik ini, dan saya hanya tinggal tutup mata menikmati setiap alunan suaranya.

Yang bikin saya jatuh cinta sama yang namanya saksofon adalah suaranya. Jelas. Bagus. Bagus. Bagus. Bagus. Bagus. Bagus. Bagus sekali. Bisa menghilangkan suntuk kalau lagi suntuk, bisa menambah keceriaan kalau lagi ceria. Kalau dalam keadaan normal, saya bisa terjangkit gejala-gejala tadi. I Love Saxophone!

Edisi Cinta [-cintaan]

Januari 23rd, 2010 § 10 Komentar

“Aku diputusin cowokku,” kata adik saya pagi itu. Seketika, tangannya langsung meraih gagang telpon. Setengah jam kemudian, dia sudah siap untuk keluar rumah. “Mau kemana?” tanya saya. Dia menjawab, “Menyelesaikan urusanku sama dia,” jawabnya cepat sambil berlalu.

Sekelebat, pikiran saya langsung melayang pada peristiwa 8 bulan lalu. Putus cinta itu nggak enak! Beneran! Apalagi kalau ada di pihak yang diputusin. Rasanya dunia bentuknya nggak bulat lagi. Jadi ingat, dua hari setelah putus, saya cuma mengurung diri di kamar. Keluar seperlunya. Ke kampus nggak berasa ke kampus. Kayaknya hidup bener-bener berubah total.

Padahal sebenarnya kalau mau dipikir, apa gunanya diam di kamar, nangis semalaman. Hal itu nggak akan mengubah keadaan kan? Tapi jujur, putus cinta itu memang sangat-sangat-sangat menyakitkan. Saat ini -sebenarnya- saya dan mantan juga nggak ada masalah. Everything runs well. Tapi kalau mau dikulik lebih dalam lagi, ada rasa keengganan yang amat sangat antara saya dengan dia. Entah ini dialami oleh banyak perempuan atau cuma saya.

Memang, saya dan dia sudah nggak ada masalah, tapi rasanya saya jadi malas sekali untuk berurusan dengan dia. Jangan tanya kenapa. Saya juga tidak tahu. Kalau nggak terpaksa dan dengan alasan menjunjung tinggi nama persahabatan –seperti tempo hari- saya juga ogah sms dia.

Saya marah? Nggak. Saya sakit hati? Iya, tapi itu dulu.  Sudah benar-benar habis feeling. Sekarang semuanya baik dan tidak ada masalah. Hanya saja, sekarang saya akan berpikir puluhan ribu kali untuk menghubunginya. Saat ini, saya tetap sibuk dengan hidup saya, begitu pula dengan dia. Bagaimanapun jeleknya, dia pernah jadi seseorang yang cukup penting bagi saya.

Pesan hari ini : Putus cinta itu memang sakit. But, don’t give up, all! Allah pasti kasih yang terbaik lebih dari yang kita kira. Just believe it!

P.S. Wish you all the best, Dul (my Ex). Wish all the best for you too, Sist

Di mana saya?

You are currently browsing entries tagged with cinta at an1ndya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 117 pengikut lainnya.